cool hit counter

PDM Kota Tasikmalaya - Persyarikatan Muhammadiyah

 PDM Kota Tasikmalaya
.: Home > Sejarah

Homepage

Sejarah Muhammadiyah Kota Tasikmalaya

“Bermula Pengurus Muhammadijah Tjabang Garut menerima surat dari Pusat Pimpinan Muhammadijah Jogjakarta, jang memberi tahukan bahwa di Tasikmalaja ada orang jang mengharap-harapkan kedatangan propoganda Muhammadijah bernama Hidajat di Tjitapen” (Fadjri, 1968 : 19). Menindaklanjuti surat itu, ketua cabang Muhammadiyah Garut Moh. Fadjri menyengaja berkunjung ke Tasikmalaya dan sempat bertemu dengan Hidayat. Pertemuan pertama belum banyak membawa dampak, rupanya Hidayat belum memiliki kawan/sahabat untuk berbagi tugas dalam mendirikan Muhammadiyah di Tasikmalaya.

Namun demikian, Allah masih memberi jalan. Tidak lama setelah itu, Sutama seorang anggota Muhammadiyah Garut dipindah tugas mengajar di Ambach School Tasikmalaya. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Moh Fadjri untuk menugaskan Sutama merintis pendirian Muhammadiyah di Tasikmalaya.

Amanat besar ini tidak disia-siakan pula oleh Sutama. Dalam waktu dekat ia berhasil mengumpulkan beberapa simpatisan. Bertempat di rumahnya di Jl. Empang dan dihadiri oleh Moh. Fadjri serta I. Somawidjaja dari Garut, malam itu terbentuk bakal kepengurusan Muhammadiyah Cabang Tasikmalaya dengan susunan sbb:

Ketua/Sekretaris/Bendahari : Sutama, Hidajat, Wiraatmadja, Idris dan Idjadji

Pembantu – pembantu          : Purawidjaja,  I.  Wiradikarta,    Ismail,  Judawinata, Idris dan Idjadji.

 

Kepengurusan Muhammadiyah Cabang Tasikmalaya secara resmi dilantik oleh K.H. Sudja dari Pimpinan Pusat pada pertengahan tahun 1936.

Amalan pertama Muhammadiyah Tasikmalaya saat itu adalah mendirikan mesjid yang terletak di kampung Pabrik dekat rumahnya Idris. Sekarang mesjid itu dikenal dengan Mesjid Pataruman terletak di belakang pertokoan Samudera. Sebagaimana diungkapkan oleh Didi Sa’rojah. Patut disayangkan amal usaha pertama itu saat ini justru dikelola bukan oleh Muhammadiyah. Selain mendirikan mesjid, di awal pertumbuhannya cabang Tasikmalaya pun mendirikan sekolah bertempat di jalan stasiun yang disebut dengan HIS.

HIS Muhammadiyah berdiri tahun 1936 bahkan Didi Sa’rojah pernah jadi siswa HIS Muhammadyah Tasikmalaya itu. Selain HIS Muhammadiyah cabang Tasikmalaya pun waktu itu sudah memiliki Schakelschool, dan Bustanul Athfal, tapi di jaman Jepang semua itu harus ditutup.

Lepas dari cengkraman pendudukan Jepang, sekitar tahun 1948 Muhammadiyah Tasikmalaya mulai menggeliat lagi  dengan perintisan Sekolah Menengah Islam (SMI) yang berlokasi di Jl. Sutisna Senjaya. Beberapa tahun kemudian masih di lokasi yang sama didirikan pula Tsanawiyah Muhammadiyah. Pada perkembangan selanjutnya SMI berubah nama menjadi SMP. Muhammadiyah dan mulai menempati lokasi Jl. Rumah Sakit, sedangkan  Tsanawiyah-nya  pada saat itu masih tetap di Jl. Sutisa Sendjaya.

Setelah itu mendirikan SD bermula di Nagarawangi kemudian pindah ke jalan Rumah Sakit. Setelah itu didirikan SMU Muhammadiyah, namun ternyata kurang berkembang. Sejalan dengan menjamurnya pendirian SPG, di Tasikmalaya pun Muhammadiyah menyelenggarakan sekolah pendidikan guru tersebut sambil berupaya terus mengembangkan SMA Muhammadiyah. Ditutupnya SPG, di Tasikmalaya SPG Muhammadiyah beralih fungsi menjadi SMK/STM yang terus berkembang sampai saat ini. Pendirian dan perkembangan lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah di Kota Tasikmalaya  juga diiringi dengan perkembangan lembaga pendidikan serupa di beberapa kecamatan terutama di wilayah Singaparna.

Pada perkembangan terakhir, Muhammadiyah Tasikmalaya juga mendirikan Sekolah Perawat Kesehatan yang beberapa tahun terakhir ditingkatkan menjadi Sekolah Tinggi Ilmu  Keperawatan. Selain itu, beberapa tahun terakhir sesuai dengan hajat masyarakat yang berkembang didirikan pula beberapa pondok pesantren dengan modifikasi dan kakhususan masing –masing. Di Kota, berdiri Ponpes Amanah yang dipimpin oleh mantan Ketua PDM Tasikmalaya Drs. H. Faqih Zaenuddin. Sementara yang berada di kabupaten  adalah Al Furqan yang berdiri sebelumnya di Singaparna, At Tajdid di Singaparna dan Qurrata A’yun di cabang Leuwisari.

Di awal perkembangannya,  Muhammadiyah Tasikmalaya banyak dibantu oleh ketelatenan dan kesungguhan para Mubaligh Muhammadiyah dari cabang Garut. Bahkan untuk membantu pengembangan Muhammadiyah di Tasikmalaya, disamping untuk menjamin efektifitas pembinaan yang selama ini dilakukan sendiri oleh Moh. Fadjri dari Garut, maka secara resmi Muhammadiyah Garut menugaskan A.S. Bandy agar menetap di Tasikmalaya untuk menjadi mubaligh sekaligus guru tetap di sekolah sekolah yang didirikan oleh Muhammadiyah Tasikmalaya. Dengan bantuan tenaga ini perkembangan Muhammadiyah di Tasikmalaya menunjukan perkembangan yang cukup menggembirakan bahkan sempat merintis pendirian bakal cabang di Ciamis dan Singaparna.

“Puntjak kemajuan berkembangnja Tjabang Tasikmalaja sebelum Perang Dunia ke II pernah menerima konperensi Djawa Barat ke VIII jang sangat meriah, sebab disamping konperensi Muhammadijah, disertai pula konperensi Madjlis Tardjih. Djuga ditambah dengan mengadakan pameran dari bermatjam-matjam keradjinan jang ketika itu mendapat perhatian jang sangat menggembirakan” (Fadjri, 1968 : 20)

Muhammadiyah Tasikmalaya berstatus sebagai cabang sampai tahun 1968. Setelah itu menyesuaikan diri menjadi Pimpinan Muhammadiyah Daerah sampai sekarang. Muhammadiyah di Tasikmalaya sampai tahun 2005, sepanjang sejarahnya pernah dipimpin oleh 10 orang tokoh yang  6 orang diantaranya memimpin semasa berstatus sebagai cabang. Kesepuluh orang tokoh itu adalah    Sutama        (1936 – 1943), disusul H. O. Sobari (1948-1951), Hidayat (1951-1954), kemudian dilanjutkan oleh Iwa Garniwa (1954 – 1959), H. M. Bahruddin (1959 – 1965), dan  E. Nurul Ain (1965 - 1968). Kelima orang tokoh tadi adalah para Ketua  semasa Muhammadiyah Tasikmalaya berstatus sebagai cabang. Adapun yang terakhir, yaitu E. Nurul Ain (1965-1975) kembali mendapat kepercayaan untuk memimpin Muhammadiyah pada saat perubahan status dari cabang ke daerah. Dengan demikian E. Nurul Ain mengalami baik sebagai ketua cabang maupun sebagai ketua daerah. Selepas dari E. Nurul Ain PMD Tasikmalaya dipercayakan kepada Taufiq Ali (1975 – 1990), kemudian Drs. H. Uun HS (1990 – 1995), Drs. H. Faqih Zainuddin (1995 – 2000), Drs. H Hasan Asy`ari (2000-2005), dan periode 2005 – 2010 dinahkodai oleh Iip Syamsul Arief MN dengan susunan lengkap anggota PD. Muhammadiyah Tasikmalaya adalah Drs. U Mahmud Falah MC, MH, Drs. H Nana Setialaksana, M.Pd, Arip Somantri, S.Ag, Drs. H Aan Husnani, Endang Sulaeman, S.Ag, H. Syamsul Ma`arif, Drs. Ahmad Nurmukhlis, Asep Hilman Yahya, S.Ag.  Dalam rangka menjalankan salah satu amanat musyda ke-8 yaitu memekarkan PDM Tasikmalaya menjadi PDM Kota dan PDM Kabupaten, maka diadakan penambahan anggota PDM Tasikmalaya yaitu : Drs. Dadan Ahmad Sofyan, M.Pd dan Drs. Wawan Wahyudin, M.SI.

Pada tanggal 05 Nopember 2008 Pimpinan Pusat memberikan pengesahan pemekaran PDM Tasikmalaya menjadi PDM Kota Tasikmalaya dan PDM Kabupaten Tasikmalaya dengan SK Nomor : 150/KEP/I.0/B/2008, sedangkan personalia PDM Kota dan PDM Kabupaten baru terbentuk dan disahkan oleh PWM Jawa Barat pada tanggal 11 Maret 2010 dengan SK PWM Nomor : 005/KEP/II.0/D/2010 dengan susunan anggota PDM Kota Tasikmalaya sebagai berikut : Iip Syamsul Arif MN sebagai ketua dan anggotanya terdiri dari 12 orang yaitu : Drs. U Mahmud Falah MC, MH, Drs. H Nana Setialaksana, M.Pd, Arip Somantri, S.Ag, Drs. H Aan Husnani, Endang Sulaeman, S.Ag, H. Syamsul MA`arif, Drs. Ahmad Nurmukhlis, Asep Hilman Yahya, S.Ag, Drs. Suchri Suali, MM, M. Saleh Kastiwa, SH, Drs. Momor Sophandi, MM, dan Oni Sahroni, S.Sos, M.Si.


Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website