cool hit counter

PDM Kota Tasikmalaya - Persyarikatan Muhammadiyah

 PDM Kota Tasikmalaya
.: Home > Artikel > PDM

Homepage

MENGHINDARI GHIBAH

.: Home > Artikel > PDM
24 Oktober 2011 10:11 WIB
Dibaca: 771
Penulis : Ilam Maolani

            Fenomena yang sungguh memperihatinkan ketika hampir setiap hari kita menyaksikan berbagai tayangan program televisi, terutama program-program yang mengangkat sisi lain kehidupan para artis, selebritis, tokoh terkenal, para pemimpin, public figure, dan lain-lain. Tayangan-tayangan tersebut tidak jarang sarat akan mengumbar aib dan kekurangan orang lain. Belum lagi jika kita sedang berkumpul dengan teman-teman, pokok pembicaraan terkadang terfokus pada menggunjing orang lain. Perilaku menggunjing inilah yang dikenal dengan sebutan ghibah.

            Sa’id Hawwa (1998) mengartikan ghibah ialah kamu menyebut saudaramu dengan hal yang tidak disukainya seandainya ia mendengarnya, baik kamu menyebutnya dengan kekurangan yang ada pada badan, nasab, akhlak, perbuatan, perkataan, agama, atau dunianya, bahkan pada pakaian, rumah dan kendaraannya. Sebutan tentang badan, misalnya Anda menyebutkan pendek, hitam, pesek, dan semua hal yang menggambarkan sifat badannya, yang tidak disukainya. Sebutan tentang nasab, misalnya Anda mengatakan fasiq atau hina, mereka keturunan preman, pencuri, pezina, perampok, atau hal lain yang tidak disukainya. Sebutan tentang akhlak, misalnya Anda mengatakan buruk akhlaknya, bakhil, sombong, suka debat, lekas marah, lemah hati, ngawur, dan lain sebagainya. Sebutan tentang perbuatannya yang berkaitan dengan agama, misalnya Anda mengatakan pencuri, pendusta, peminum khamar, pengkhianat, zalim, menyepelekan shalat atau zakat, berkata jorok, dan lain-lain. Sebutan tentang pakaiannya, misalnya Anda mengatakan pakaiannya kotor, tidak rapih, compang-camping, dan lain-lain. Termasuk ghibah juga adalah seseorang yang menirukan dengan berjalan pincang atau berjalan menirukan cara jalannya. Berkaitan dengan makna ghibah ini terdapat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, bahwa Nabi SAW bersabda: “Tahukah kalian apa itu ghibah?“ Mereka menjawab,”Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Nabi SAW bersabda:”Kamu menyebut saudaramu dengan hal yang tidak disukainya.” Ditanyakan,”Bagaimana jika apa yang aku katakan itu ada pada diri saudaraku itu?” Nabi SAW menjawab: “Jika apa yang kamu katakan itu ada pada dirinya maka sungguh kamu telah menggunjingnya, dan jika tidak ada pada dirinya maka sungguh kamu telah menyebutkan hal yang dusta tentang dirinya.”

            Ghibah terjadi disebabkan oleh delapan faktor, yaitu: melampiaskan kemarahan; menyesuaikan diri dengan kawan-kawan, berbasa-basi kepada teman, dan mendukung pembicaraan mereka; ingin mendahului menjelek-jelekkan keadaan orang yang dikhawatirkan memandang jelek ihwalnya di sisi orang yang disegani; keinginan bercuci tangan dari perbuatan yang dinisbatkan kepada dirinya; ingin membanggakan diri; kedengkian; bermain-main, senda gurau dan mengisi waktu kosong dengan lelucon; dan melecehkan serta merendahkan orang lain demi untuk menghinakannya.

            Ghibah merupakan sifat tercela, menyerupakan pelakunya dengan orang yang memakan daging mayat, dan sebagai perbuatan yang harus dijauhi. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 12: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” Rasul SAW bersabda:”Janganlah kalian saling mendengki, saling membenci, saling bersaing, dan saling membuat makar. Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (H.R. Bukhari-Muslim). Anas r.a. berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Pada malam ketika aku melakukan perjalanan malam (isra dan mi’raj), aku melewati suatu kaum yang mencakar wajah mereka dengan kuku-kuku mereka sendiri. Aku bertanya,”Wahai Jibril, siapakah mereka itu?” Jibril menjawab,”Mereka adalah orang-orang yang menggunjing dan mencela kehormatan orang lain.” (H.R. Abu Dawud).

            Al-Barra berkata, Rasulullah SAW berkhutbah kepada kami hingga terdengar oleh kaum wanita di rumah-rumah mereka. Nabi SAW bersabda:”Wahai orang-orang yang beriman dengan lidahnya tetapi tidak beriman dengan hatinya, janganlah kalian menggunjing kaum Muslimin dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan mereka, karena sesungguhnya orang yang mencari-cari kesalahan saudaranya maka Allah akan mencari-cari kesalahannya, dan siapa kesalahannya dicari-cari oleh Allah maka pasti Allah akan membongkarnya di tengah rumahnya.” (H.R. Ibnu Abu Dunya dan Abu Dawud). Jabir r.a. berkata, Kami pernah bersama Rasulullah SAW dalam suatu perjalanan, kemudian Rasulullah SAW melewati dua kuburan yang penghuninya tengah disiksa, lalu Nabi SAW bersabda:”Sesungguhnya keduanya disiksa dan keduanya tidak disiksa karena dosa besar. Yang satu disiksa karena dahulu menggunjing orang, sedangkan yang satu lagi disiksa karena dahulu tidak membersihkan dari kencingnya.” Lalu Nabi SAW meminta dua pelepah korma dan memerintahkan kepada Kami agar setiap belahan pelepah korma itu ditanam di atas kuburan. Nabi SAW bersabda:”Sesungguhnya keduanya akan diperingan siksanya selagi kedua pelepah itu masih basah (atau belum kering).”(H.R. Bukhari-Muslim).

            Sifat ghibah dapat dihindari dengan melakukan hal-hal sebagai berikut: 1)  menyadari bahwa ghibah dapat mendatangkan kemurkaan Allah; 2) menyadari bahwa ghibah dapat membatalkan kebaikan-kebaikannya di hari kiamat; 3) mengetahui bahwa ghibah dapat memindahkan kebaikan-kebaikannya kepada orang yang digunjingnya, sebagai ganti dari kehormatan yang telah dinodainya. Jika tidak memiliki kebaikan yang bisa dialihkan maka keburukan-keburukan orang yang digunjingnya akan dialihkan kepadanya; 4) lebih bermanfaat jika sibuk merenungi dan memperhatikan keadaan dirinya sendiri daripada sibuk mencari kesalahan dan aib orang lain; 5) akan bermanfaat baginya jika dia mengetahui bahwa orang lain merasa sakit karena ghibah yang dilakukannya sebagaimana dia merasa sakit bila orang lain menggunjingnya. Jika dia tidak suka digunjing maka seharusnya dia tidak suka menggunjing orang lain.  

            Akhirnya, marilah kita sadari bersama bahwa setiap orang mu’min itu adalah saudara (Al-Hujurat: 10). Sebagai sesama saudara, tidak etis dan tidak pantas jika kita menggunjingnya. Kita tidak ingin termasuk golongan orang yang muflis (bangkrut), yaitu orang yang rajin shalat, zakat, puasa, akan tetapi rajin juga menghina, menggunjing, dan memfitnah orang.  

(Dimuat di Koran Kabar Priangan) 


Tags: Ghibah
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori : Keagamaan

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website