cool hit counter

PDM Kota Tasikmalaya - Persyarikatan Muhammadiyah

 PDM Kota Tasikmalaya
.: Home >

Homepage

PERAN STRATEGIS MUHAMMADIYAH

Muhammadiyah, sebuah ormas Islam terbesar di Indonesia, yang lahir pada tanggal 8 Dzulhijjah tahun 1330 H/18 November 1912 M di Kauman Yogyakarta, kini telah memasuki awal abad ke-2 dari kelahirannya. Sebuah perjalanan panjang yang penuh liku sekaligus prestasi yang layak untuk diakui. Dalam proses perjalanan panjang 1 abad berdirinya, Muhammadiyah telah mengalami berbagai macam tantangan zaman. Mulai dari zaman penjajahan, zaman revolusi, demokrasi parlementer, hingga reformasi. Muhammadiyah menjalani pasang-surut pergerakan. Namun, tetap saja bahtera Muhammadiyah mampu bergerak dengan mantap.

Satu abad Muhammadiyah telah berkiprah di bumi pertiwi ini, dan selama itu pula Muhammadiyah menorehkan tinta emas yang gemilang dan fenomenal dalam membangun bangsa dan negara. Berbagai macam amal shalih dalam bidang sosial, dakwah, pendidikan dan kesehatan menjadikan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam modern terbesar di Asia tenggara, bahkan mungkin di dunia. Amal-amal shalih yang merambah ke berbagai bidang inilah yang menjadi ‘trade mark Muhammadiyah’ yang spektakuler dibandingkan dengan organisasi kemasyarakat Islam sejenis di Indonesia.

Betapa tidak, sampai saat ini, di 33 provinsi di Indonesia ini telah berdiri Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM). Dengan 366 kota/kabupaten di antaranya telah berdiri Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM). Jumlah Cabang Muhammadiyah (PCM) saat ini pun sebanyak 2.930 buah, sedang jumlah Ranting sebanyak 6.726 buah. Di samping itu, di berbagai negara Asia, Eropa, maupun Amerika Serikat telah berdiri pula Cabang Istimewa Muhammadiyah. Jumlah sekolah Muhammadiyah, sejak tingkat Dasar sampai Menengah Atas, sebanyak 7.307. Jumlah itu masih ditambah lagi dengan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) sebanyak 168. Jumlah Rumah Sakit/Balai Pengobatan sebanyak 389 buah. Jumlah BPR/Baitul Mal sebanyak 1.673. Jumlah Masjid sebanyak 6.118, sedang jumlah Musholla sebanyak 5.080 buah. Belum lagi ditambah dengan kiprah para tokoh dan anggota Muhammadiyah yang berada di berbagai bidang profesi penting di negeri ini. Kiprah yang tidak bisa dianggap enteng.

Lalu pada level Provinsi Jawa Barat, Muhammadiyah sudah memiliki 23 Pimpinan Daerah Muhammadiyah, 279 cabang, dan 1.198 ranting. Dalam bidang Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), ada 29 AUM Kesehatan (3 Balai Kesehatan Ibu dan Anak, 17 Balai Pengobatan, 3 Pos Kesehatan Pesantren, 4 Rumah Sakit Bersalin, 2 Rumah Sakit Umum); 45 AUM Sosial (35 Panti Sosial Asuhan Anak, 4 Panti Werda,5 Panti Santunan Keluarga, 1 Layanan Musibah); 79 AUM Ekonomi (52 Koperasi SP/SU, 15 BMT, 12 Unit Amal Usaha Ekonomi lainnya); 397 Sarana Ibadah (342 masjid dan 55 mushola); 575 AUM Pendidikan (44 MDA, 20 PAUD, 94 TK/TPA, 60 SD, 69 MI, 90 SMP, 47 MTs, 47 SMA, 35 SMK, 14 Aliyah, 11 SLB, 17 Akademi/Sekolah Tinggi, 2 Universitas, 22 Pesantren, dan 2 Lembaga Kursus.

Kemudian di Kota Tasikmalaya sendiri, sampai tahun 2011 ini, terdapat 9 Pimpinan Cabang Muhammadiyah, 38 ranting, 18 cabang binaan, dengan jumlah warga Muhammadiyah 86.250 orang. Lalu ada 20 lembaga pendidikan mulai dari PAUD, TK, SD/MI, SLB, SMP/MTs, sampai SMA/MA/SMK, 2 Pesantren, 1 Pos Kesehatan Pesantren, dan 2 Sekolah Tinggi. Jumlah siswa yang sekolah di lembaga pendidikan Muhammadiyah sebanyak 3639 orang dan mahasiswa sebanyak 1126 orang.

Prestasi luar biasa ini tidak lahir begitu saja. Ia lahir akibat semangat berpikir KH. Ahmad Dahlan dan para pengikutnya dalam mengaktualisasikan dan membumikan ajaran-ajaran Islam dengan realitas faktual. Gerakan tajdid (pembaharuan) KH. Ahmad Dahlan secara cerdas berhasil memadukan wahyu dan akal dalam memahami teks-teks primer Islam, Al-Qur’an dan Sunah Nabi. KH. Ahmad Dahlan dan pengikutnya sampai saat ini telah berhasil mewujudkan lima doktrin Muhammadiyah, yaitu tauhid, pencerahan umat, menggembirakan amal shalih, kerjasama untuk kebaikan, dan tidak berpolitik praktis.

Fakta di atas menjadi bukti kuat dan akurat betapa strategisnya peran Muhammadiyah di negeri ini. Nah, pertanyaan berikutnya, apakah peran Muhammadiyah yang ditunjukkan dengan keberhasilannya selama abad pertama kelahirannya dapat dipertahankan bahkan lebih jauh bisa ditingkatkan pada abad kedua? Jawabannya terletak pada adanya kemauan yang kuat dan keras dari seluruh warga Muhammadiyah, mulai dari pusat sampai ranting, dalam memaknai dan mengimplementasikan ajaran-ajaran Muhammadiyah secara lebih aktual, membumi, dan visioner.

 

 

PR Besar Menanti

 

Persoalan bangsa ini sungguh sangat besar dan berat, mulai dari persoalan akhlak para pemimpin dan rakyatnya, carut marut pengelolaan negara yang terjerumus pada KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme), rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia, munculnya berbagai aksi anarkisme, kenakalan remaja, pergaulan bebas, narkoba, kemiskinan, pengangguran, tingkat kriminalitas yang tinggi, terorisme, efek negatif kemajuan IPTEK, dan sebagainya. Menghadapi berbagai problematika yang dialami bangsa ini, maka program-program kerja yang dirumuskan dan akan diaplikasikan pada abad kedua nanti harus mampu  meminimalisasikan atau menghilangkan permasalahan-permasalahan tersebut. Kita yakin dan optimis, Muhammadiyah mampu melakukannya, karena Muhammadiyah merupakan organisasi yang solid, dewasa, dan sudah teruji keberpihakannya dalam membantu bangsa dan negara ini.

Memasuki abad kedua, di tengah-tengah pesat dan derasnya gempuran perkembangan informasi dan komunikasi serta budaya global, minimal ada empat poin penting yang harus tetap dipegang oleh warga Muhammadiyah:

Pertama, istiqomah dalam berjuang. Muhammadiyah harus terus dipertahankan sebagai gerakan dakwah yang berorientasi pada aspek sosial dan pendidikan. Tidak perlu latah memaksakan diri untuk menceburkan diri ke politik praktis.  Kedua, segenap warga Muhammadiyah mampu memahami, menghayati, dan mengamalkan Kepribadian Muhammadiyah, Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah, Khittah Muhammadiyah, dan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah. Ketiga, jadilah pengikut Nabi Muhammad SAW yang ‘sejati’. Tetap menjadikan sosok Nabi Muhammad SAW sebagai the real idol, idola yang sebenarnya, panutan yang menjadi contoh teladan selamanya. Keempat, jaga dan pelihara Muhammadiyah dengan ikhlas (sepenuh hati), sebagaimana amanat KH. Ahmad Dahlan: “Karena itu, aku titipkan Muhammadiyah ini kepadamu sekalian dengan penuh harapan agar engkau sekalian mau memelihara dan menjaga Muhammadiyah itu dengan sepenuh hati sehingga Muhammadiyah bisa terus berkembang selamanya.”


Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website